
" Alhamdulillah..." kesyukuran dipanjatkan kepadaNya. Reaksi Aisyah seraya tiba di kolej kediamannya. Kepenatan segera hilang apabila jasadnya direbahkan. Selama sehari semalam perjalanan dari kampung ke medan ilmu ini menyebabkan dia membiarkan jasadnya dibelai.Walau hanya sebentar meninggalkan insan yang disayangi, namun kerinduan terlalu awal muncul dalam hatinya. 'Ummi, Aisyah rindu dengan ummi...' rintihan Aisyah dalam doanya.
Allah itu Maha Pemurah, walaupun insan itu tidak disisinya, namun sahabat-sahabat yang dikasihi sentiasa cekal mengharungi kehidupan kampus bersamanya.
Bermula kehidupan kampus semula. Rutin hariannya berjalan seperti biasa. Hanya kepada Kekasih dipanjatkan doa mohon kekuatan. Sampai bilakah pengalaman hidup ini akan berakhir... Terlalu berat untuk meninggalkan insan yang disayangi, namun disebabkan tanggungjawab, jasad kerdil pemiliknya akur dengan tuntutan itu.
Seiring dengan kesibukan yang bakal ditempuhinya, Aisyah tidak lari dari persoalan-persoalan yang bermain di hatinya. Bila bersendirian, terlalu banyak persoalan yang membelenggu fikiran, namun cepat ditepis dengan jihad kecil di hatinya. "Ya Allah, berilah kekuatan kepadaku, Janganlah Engkau memberi ujian yang tidak mampu untuk aku lalui, bahkan limpahkanlah keredhaanMu kepadaku...amin, Ya Rabb..."
DenganMu Ya Allah...
Perjanjian yang saban hari aku perbaharui,
solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku,
hanya untukMU, Tuhan Sekalian Alam...
Bukankah hidup itu untuk mati,
dan mati untuk hidup yang lebih tinggi,
lalu aku mengerti,
apa tujuanku dihidupkan dan dimatikan.
No comments:
Post a Comment